YERUSALEM, 20 MARET—Sebuah rudal Iran dilaporkan menghantam kilang minyak di kota Haifa, Israel utara, pada Kamis (19/3), dalam serangan balasan yang menarget infrastruktur energi dan memicu peringatan keras dari Teheran mengenai eskalasi lebih lanjut.
Menteri Energi Israel, Eli Cohen, membenarkan bahwa fasilitas milik Oil Refineries Ltd terkena serangan, namun menyatakan dampaknya terbatas. “Kerusakan pada jaringan listrik di utara bersifat lokal dan tidak signifikan,” kata Cohen dalam pernyataan resmi, seraya menambahkan bahwa pasokan listrik telah pulih untuk sebagian besar pelanggan.
Serangan ini merupakan bagian dari gelombang serangan rudal dan drone Iran di Timur Tengah sebagai respons atas serangan Israel terhadap ladang gas lepas pantai South Pars milik Iran sehari sebelumnya. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengonfirmasi pihaknya menembakkan rudal ke arah Haifa dan Ashdod di selatan Israel, meskipun belum jelas apakah fasilitas di Ashdod turut terkena.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, merespons dengan pernyataan keras, mengatakan negaranya akan menunjukkan “ZERO restraint” (tanpa batasan) jika infrastrukturnya kembali diserang. Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya serangan lintas batas yang mengubah infrastruktur energi menjadi target militer yang sah di mata kedua belah pihak.
Di medan terpisah, konflik melebar ke Lebanon. Militer Israel telah melancarkan serangan darat dan udara intensif sejak awal Maret, menewaskan lebih dari 1.000 orang. Eskalasi di Lebanon dipicu serangan roket Hizbullah ke Israel utara sebagai respons atas terbunuhnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 28 Februari—hari pertama perang AS-Israel terhadap Iran.
Di kota Kiryat Shmona, dekat perbatasan Lebanon, empat orang dilaporkan terluka akibat serangan roket terpisah, termasuk seorang pria berusia 60 tahun dalam kondisi serius akibat pecahan peluru.
Status Verifikasi
- Fakta terverifikasi: Serangan rudal Iran mengenai kilang minyak Haifa; Menteri Energi Israel mengonfirmasi dampak terbatas; Iran melancarkan serangan balasan atas serangan Israel ke ladang gas South Pars; perang Israel-AS terhadap Iran telah berlangsung sejak 28 Februari; Hizbullah terlibat dalam konflik di perbatasan utara Israel.
- Klaim belum terverifikasi: Kondisi pasti fasilitas Ashdod pasca-serangan; hubungan langsung antara serangan di Kiryat Shmona dengan operasi Iran atau Hizbullah pada hari yang sama.
- Informasi abu-abu: Tingkat kerusakan sebenarnya pada infrastruktur energi Israel mengingat pernyataan resmi cenderung meremehkan dampak; skala penuh serangan balasan Iran yang direncanakan.
Serangan terhadap kilang Haifa menandai eskalasi signifikan dalam perang energi regional. Dengan menjadikan infrastruktur minyak dan gas sebagai target, Iran menunjukkan kapasitasnya untuk mengganggu pasokan energi Israel dan sekutunya, meskipun dampak langsungnya masih terbatas. Langkah ini juga membalas serangan serupa Israel di ladang gas Iran, menciptakan siklus balasan yang dapat menarik kekuatan eksternal mengingat stabilitas pasar energi global.
Peringatan “zero restraint” dari Teheran mengisyaratkan kemungkinan serangan lebih luas dan tanpa batas jika fasilitas vitalnya kembali diserang. Sementara itu, meluasnya konflik ke Lebanon dengan korban sipil yang besar berisiko membuka front baru yang akan menguras sumber daya militer Israel dan memicu ketidakstabilan kawasan yang lebih dalam.
Ke depan, fokus internasional akan tertuju pada respons Israel: apakah akan membalas secara proporsional pada target energi Iran atau memilih eskalasi terbatas untuk menghindari perang total. Keputusan ini akan menentukan apakah siklus serangan balasan dapat dikendalikan atau akan meluas menjadi konflik terbuka yang melibatkan lebih banyak aktor dan infrastruktur kritis di kawasan.