Teheran, 20 Maret 2026 — Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan peluncuran gelombang serangan terbaru menggunakan rudal berat multi-hulu ledak terhadap target di Israel dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, dalam eskalasi terbaru konflik yang telah berlangsung sejak akhir Februari.
Menurut laporan Press TV, serangan tersebut merupakan bagian dari gelombang ke-66 operasi balasan bertajuk True Promise 4, yang diklaim melibatkan berbagai sistem rudal dalam skala besar yang menargetkan wilayah yang disebut sebagai “occupied territories” serta aset militer AS di kawasan.
IRGC menyatakan operasi ini sebagai respons langsung terhadap serangan yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel sejak 28 Februari, yang oleh Teheran disebut sebagai “perang agresi”.
Laporan tersebut muncul di tengah meningkatnya intensitas konflik regional. Sejumlah sumber internasional juga mencatat bahwa Iran telah meluncurkan beberapa gelombang serangan rudal yang menargetkan wilayah Israel dan fasilitas militer AS di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir.
Namun, hingga saat ini belum ada konfirmasi independen mengenai skala, efektivitas, maupun dampak langsung dari penggunaan rudal multi-hulu ledak sebagaimana diklaim oleh IRGC.
Di sisi lain, pemerintah Iran juga meningkatkan tekanan diplomatik. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menyerukan tindakan internasional terhadap apa yang disebutnya sebagai “kejahatan” yang dilakukan oleh AS dan Israel, serta memperingatkan potensi konsekuensi lebih luas bagi negara-negara lain.
Kementerian Luar Negeri Iran turut menegaskan bahwa serangan balasan terhadap target di negara-negara kawasan merupakan bagian dari hak membela diri, sambil memperingatkan bahwa negara yang memberikan fasilitas bagi operasi militer AS dan Israel dapat dianggap sebagai pihak yang terlibat.
Konflik antara Iran dan aliansi AS–Israel dimulai pada 28 Februari 2026 melalui serangan udara terkoordinasi terhadap berbagai target di Iran, dan sejak itu berkembang menjadi pertukaran serangan lintas kawasan yang melibatkan rudal, drone, serta serangan terhadap infrastruktur strategis.
Dalam beberapa hari terakhir, eskalasi juga terlihat dari serangan terhadap infrastruktur energi, termasuk fasilitas gas utama di Iran yang memicu gangguan pasokan dan lonjakan harga energi global.
Status Verifikasi
- Terverifikasi: IRGC mengumumkan peluncuran gelombang serangan terbaru sebagai bagian dari operasi True Promise 4
- Belum terverifikasi: Klaim penggunaan rudal “multi-hulu ledak berat” dan efektivitas serangan terhadap target AS dan Israel
- Informasi terbatas: Dampak langsung serangan, jumlah target yang berhasil dihantam, serta kerusakan di lapangan
Penggunaan rudal multi-hulu ledak, jika terkonfirmasi, menandai potensi peningkatan kemampuan serangan Iran dalam menghadapi sistem pertahanan udara berlapis, sekaligus meningkatkan kompleksitas intersepsi bagi pihak lawan.
Di saat yang sama, eskalasi berkelanjutan dalam bentuk gelombang serangan menunjukkan bahwa konflik telah bergeser dari fase serangan terbatas menuju konfrontasi regional yang lebih luas, dengan dimensi militer, energi, dan diplomasi yang saling terkait.
Ketegangan ini juga meningkatkan risiko terhadap jalur energi global, terutama di sekitar Selat Hormuz, yang menjadi salah satu titik krusial distribusi minyak dunia.
Dengan intensitas serangan yang terus meningkat dan klaim militer yang belum dapat diverifikasi secara independen, konflik Iran–AS–Israel semakin bergerak ke arah yang sulit diprediksi. Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada respons militer lanjutan serta dinamika diplomatik yang kini berjalan paralel di tingkat regional dan internasional.