Sinyal Kedaulatan yang Tidak Bisa Ditawar
Presiden Taiwan, Lai Ching-te, mengumumkan pengajuan anggaran pertahanan tambahan sebesar NT$ 1,25 triliun (sekitar Rp 664 Triliun) dalam konferensi pers, menandai eskalasi keseriusan Taipei dalam menghadapi ancaman militer Beijing. Anggaran ini disiapkan di tengah peningkatan tekanan militer China yang menganggap Taiwan sebagai provinsi yang memisahkan diri.
Lai Ching-te menolak mentah-mentah klaim Beijing, menyatakan bahwa “Tidak ada ruang untuk kompromi terkait keamanan nasional.” Pernyataan ini menegaskan bahwa perjuangan tersebut bukan sekadar perselisihan mengenai “penyatuan versus kemerdekaan,” tetapi tentang mempertahankan nilai-nilai inti demokrasi dan kebebasan.
Baca:
Krisis Selat Taiwan: Bukan Hanya Perang, Melainkan Gerbang Menuju Bencana Rantai Pasok Global
Anggaran ini akan diarahkan pada dua pilar utama:
- Akuisisi Senjata Signifikan dari Amerika Serikat.
- Peningkatan pesat Kemampuan Asimetris Taiwan—kemampuan yang dirancang untuk menimbulkan kerusakan maksimum pada penyerang tanpa harus menyamai kekuatan total mereka.
Perisai Langit ‘T-Dome’
Bagian krusial dari strategi ini adalah percepatan pengembangan “T-Dome,” sebuah sistem pertahanan udara berlapis yang bertujuan menciptakan visi Taiwan yang “tak tergoyahkan, yang dilindungi oleh inovasi dan teknologi.”
Mengapa Biaya Lebih Penting dari Senjata
Di Lapis Politik Internasional, anggaran Rp 664 Triliun ini dipandang sebagai investasi strategis yang bertumpu pada kalkulasi ekonomi dan politik, bukan sekadar belanja militer konvensional.
Strategi Taiwan adalah memaksa Beijing untuk menyadari bahwa setiap potensi invasi akan mengakibatkan kerugian yang tidak proporsional dan tidak dapat diterima, yang akan membahayakan stabilitas ekonomi dan legitimasi politik Partai Komunis China di mata rakyatnya sendiri.
“Anggaran ini bukan untuk memenangkan pertempuran kapal induk melawan kapal induk. Ini untuk memastikan bahwa jika China bergerak, mereka akan kehilangan begitu banyak aset militer dan menghadapi sanksi ekonomi global yang begitu berat, sehingga biaya invasi itu sendiri akan menghancurkan pertumbuhan ekonomi China selama satu dekade. Taiwan membeli waktu, dan yang lebih penting, membeli kepastian bahwa invasi adalah bunuh diri ekonomi bagi Beijing,” — Editor LapisBerita.
Pengumuman ini disampaikan di tengah peningkatan ketegangan regional. Anggaran tersebut datang setelah AS menyetujui penjualan alat militer baru dan setelah Perdana Menteri Jepang mengisyaratkan kesediaan Tokyo untuk melakukan intervensi jika Taiwan diserang. Anggaran ini juga merupakan respons terhadap spektrum ancaman yang lebih luas. Beijing tidak hanya menggunakan kapal perang, tetapi juga menggunakan perang hibrida, termasuk mempolitisasi produk budaya dan ekonomi, seperti yang diulas LapisBerita sebelumnya.
Baca:
Diplomasi Gajah Mina: Memperkuat Kedaulatan Maritim Melalui Sinyal Strategis ke Inggris
Harga Kebebasan dan Beban PDB
Keputusan menaikkan anggaran pertahanan memberikan sinyal yang jelas kepada komunitas internasional: Taiwan berkomitmen penuh untuk mempertahankan diri. Ini adalah sinyal yang sangat penting bagi Amerika Serikat, yang telah mendesak Taiwan untuk meningkatkan anggaran pertahanannya sendiri.
Presiden Lai Ching-te telah menetapkan target ambisius untuk meningkatkan anggaran pertahanan hingga 5% dari PDB Taiwan pada tahun 2030. Ini adalah harga yang sangat mahal bagi rakyat Taiwan, yang berarti pengalihan sumber daya besar dari belanja sosial dan infrastruktur domestik. Namun, seperti yang ditegaskan Lai, biaya tersebut adalah harga yang harus dibayar untuk menghindari “perbudakan” politik. Peningkatan ini menempatkan Taiwan pada daftar negara dengan rasio belanja militer terhadap PDB tertinggi di dunia, sebuah pengorbanan yang disengaja demi menjaga kedaulatan di tengah ancaman.
Baca:
Diaspora Tanpa Paspor: Jalan Tengah Indonesia di Antara Nasionalisme dan Globalisasi
🛎️ Jeda Sebelum Share
Tarik napas. Angka Rp 664 Triliun adalah investasi Taiwan dalam strategi deterrence abad ke-21. Apakah angka ini cukup besar untuk mengubah kalkulasi risiko China?
📚 Sumber Transparan
- Utama: Konferensi Pers Presiden Taiwan Lai Ching-te (26 November 2025).
- Data Pendukung: Pernyataan Presiden Lai Ching-te di Washington Post (25 November 2025) mengenai rencana peningkatan anggaran pertahanan hingga 5% PDB.
🔗 Bacaan Lanjutan
- Analisis Pertahanan: “Strategi Deterrence Asimetris: Bagaimana Taiwan Menggunakan Teknologi untuk Melawan Massa.”
- Geopolitik: “Seberapa Jauh Jepang Bersedia Melangkah dalam Membela Taiwan?”
- Ancaman Total War Non-Militer: Ketika Geopolitik Taiwan Menjadikan Anime dan Boga Bahari Senjata Beijing
1 thought on “Strategi ‘Deteren Harga Mati’: Rp 664 Triliun Taiwan Bukan untuk Menang Perang, Tapi Membuat Invasi China Secara Ekonomis Mustahil”